Aku butuh kata yang menjadi nyata

Musim hujan kembali datang tanpa undangan, disini lagi-lagi hanya aku dan bayanganku menyimak semua kebohongan yang terlontar dari dirimu. Muak, namun sudah biasa, sehingga aku pun lebih memilih untuk ikut diam seolah-olah mengerti akan semua tentangmu.

Kita berbeda. Aku tidak kenal kamu. Mukamu terlalu banyak, janjimu manis, dan kata-kata yang keluar dari mulut kamu tersyair dengan indah seolah-olah ini adalah nyata. 

Aku tidak tahu kamu yang mana dan bagaimana?

Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya?

Aku tidak tahu mau jadi apa aku ini kamu bawa?

Aku tidak tahu apa yang bisa membuatmu bahagia?

Ketika lorong gelap itu aku lewati sendirian, hembusan angin terasa menusuk ke punggungku. Rasanya dingin, dan menyakitkan.

Kepada siapa aku harus mencari kehangatan?

Ditemani senter kecil di tanganku, aku mencoba terus menyusuri lorong gelap yang seperti tak berujung.

Namun aku melihat sebuah cahaya samar-samar. Hatiku gembira, karena artinya ada jalan keluar di ujung sana. Rasanya ingin langsung berlari namun aku menahan diri, tapi langkahku sedikit lebih cepat karena tidak sabar.

Ada suara langkah kaki..

Perasaanku bercampur aduk.. takut kalau misalnya itu ternyata orang jahat.. tenang.. aku harus tenang..

Ketika semakin dekat cahaya dan suara langkah pun semakin jelas, aku terus berjalan menatap ke depan..

Ternyata itu kamu!

Kamu yang selalu menepati janji, mencari kemana aku pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *