Aku butuh kata yang menjadi nyata

Musim hujan kembali datang tanpa undangan, disini lagi-lagi hanya aku dan bayanganku menyimak semua kebohongan yang terlontar dari dirimu. Muak, namun sudah biasa, sehingga aku pun lebih memilih untuk ikut diam seolah-olah mengerti akan semua tentangmu.

Kita berbeda. Aku tidak kenal kamu. Mukamu terlalu banyak, janjimu manis, dan kata-kata yang keluar dari mulut kamu tersyair dengan indah seolah-olah ini adalah nyata. 

Aku tidak tahu kamu yang mana dan bagaimana?

Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya?

Aku tidak tahu mau jadi apa aku ini kamu bawa?

Aku tidak tahu apa yang bisa membuatmu bahagia?

Ketika lorong gelap itu aku lewati sendirian, hembusan angin terasa menusuk ke punggungku. Rasanya dingin, dan menyakitkan.

Kepada siapa aku harus mencari kehangatan?

Ditemani senter kecil di tanganku, aku mencoba terus menyusuri lorong gelap yang seperti tak berujung.

Namun aku melihat sebuah cahaya samar-samar. Hatiku gembira, karena artinya ada jalan keluar di ujung sana. Rasanya ingin langsung berlari namun aku menahan diri, tapi langkahku sedikit lebih cepat karena tidak sabar.

Ada suara langkah kaki..

Perasaanku bercampur aduk.. takut kalau misalnya itu ternyata orang jahat.. tenang.. aku harus tenang..

Ketika semakin dekat cahaya dan suara langkah pun semakin jelas, aku terus berjalan menatap ke depan..

Ternyata itu kamu!

Kamu yang selalu menepati janji, mencari kemana aku pergi.

Jalan Pintas Menuju Mimpi (Fana)

Berlari dan terus berlari tanpa tahu batas lelah bahkan lelahnya batin tidak lagi kamu rasakan hingga membuat kamu (mungkin) lupa bagaimana itu rasanya berhenti sejenak hanya untuk sekedar bernapas, rehat, dan sekedar menikmati (apapun) keadaan hidupmu dan dirimu sendiri. Berlari dan terus berlari mengejar cahaya yang kamu selalu pikir itu adalah tujuan utamamu, namun ternyata kamu lupa kalau kita sering silau karena cahaya sehingga tidak dapat melihat dengan jelas di depan sana atau bahkan melihat diri sendiri.

Berlari dan terus berlari sampai kamu tidak sadar, fisikmu lelah, kaki itu butuh istirahat, otakmu juga butuh asupan oksigen masuk, dan hati kamu juga butuh disentuh dengan kasih karena ia sudah mulai lupa bagaimana rasanya dicintai lagi. Bukan oleh orang lain, namun oleh kamu, dirimu sendiri. Hatimu hanya butuh kamu, butuh kamu isi kembali dengan canda tawamu dan cintamu sampai akhirnya kembali sadar siapa identitasmu.

Ego mengalahkan kasih, ego akan selalu menang di dalam hidupmu. Tanpa sadar, ego bahkan  sudah merubah makna cinta bukan lagi kasih tanpa kamu sadari. Menjalani hidup di dunia fantasi hasil ciptaan ego dirimu membuat kamu yakin bahwa ini jalan terbaik yang seharusnya kamu dan belahan hatimu jalani. Namun, apa iya ini akan jadi contoh yang patut ditiru untuk masa depan?

Bagaimana sebuah kehidupan ideal dengan landasan ego dapat tercipta ketika hati dan dirimu saja sebetulnya sudah lelah menjalaninya?

Bagaimana bisa menciptakan kebahagiaan kemudian menularkannya untuk menjadi contoh bekal nantinya ketika dijalankan dengan memakai topeng? 

Apakah ini definisi mencintai diri sendiri menurutmu saat ini? Apa kamu tidak capek menjalani hidup seperti ini? Apa kamu sanggup terus berpura-pura menjadi orang lain sedangkan kamu ingin menjadi contoh dan impact buat belahan hatimu?

Siapa identitas dirimu saat ini?

Berlari dan terus berlari, sampai kamu bahkan tidak berani menghadapi kenyataan, tidak berani menghadapi kegagalan akibat kesalahan dirimu sendiri, sampai kamu akhirnya akan mengerti semua yang aku pernah katakan “terlambat itu ada”. Terlambat itu nyata.

Berlari dan terus berlari, dari ketakutan dan trauma masa lalu yang kamu pikir sudah kamu hadapi dan berdamai, lalu luka itu sembuh. Luka itu sesungguhnya masih ada dan bertambah besar, sangat jelas terlihat dari dirimu. Luka itu terlalu menyakitkan untuk dirimu obati, sehingga kamu pilih diamkan, dan sekarang sedang kamu tularkan ke belahan hatimu tanpa kamu sadari bisa membusuk sampai kamu tua nanti apabila tidak kamu sembuhkan.

Berlari dan terus berlari, tanpa henti untuk (kamu pikir) terus mengejar mimpimu.

Kamu hanya sedang berlari tanpa tujuan dan berputar disitu-situ saja, hanya tempat dan waktu yang berbeda, namun hasil akhirnya tidak membuatmu stabil, terlihat eksponensial seperti yang selalu kamu katakan ke dirimu dan orang-orang yang selalu kamu beri motivasi, kemudian semua hasil akhir akan hilang begitu saja karena ulah diri sendiri.

Sampai akhirnya kamu sadar, melihat tanggal, hari, umurmu bertambah terus setiap tahun, namun terlalu banyak waktu terbuang sia-sia untuk kebahagiaan semu yang kamu jalani.

Berhentilah sejenak, rasakan setiap lelahmu, hadapi ketakutanmu, dan jujurlah pada hatimu. Karena hati kamu yang baik terlalu sayang untuk disia-sia-kan demi ego kamu yang bahkan tidak tahu makna menyayangi dengan tulus tanpa batas.

Semoga doa baik dari orang-orang yang pernah ada di dunia ini dan tulus menyayangi kamu bisa membuatmu akhirnya mau sedikit meredam ego agar membuka hatimu untuk lebih jujur yang akhirnya membuatmu mau untuk menerima kasih dari ketulusan dan tetap menjadi dirimu sendiri dengan identitas kamu.

Xoxo