Aku butuh kata yang menjadi nyata

Musim hujan kembali datang tanpa undangan, disini lagi-lagi hanya aku dan bayanganku menyimak semua kebohongan yang terlontar dari dirimu. Muak, namun sudah biasa, sehingga aku pun lebih memilih untuk ikut diam seolah-olah mengerti akan semua tentangmu.

Kita berbeda. Aku tidak kenal kamu. Mukamu terlalu banyak, janjimu manis, dan kata-kata yang keluar dari mulut kamu tersyair dengan indah seolah-olah ini adalah nyata. 

Aku tidak tahu kamu yang mana dan bagaimana?

Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya?

Aku tidak tahu mau jadi apa aku ini kamu bawa?

Aku tidak tahu apa yang bisa membuatmu bahagia?

Ketika lorong gelap itu aku lewati sendirian, hembusan angin terasa menusuk ke punggungku. Rasanya dingin, dan menyakitkan.

Kepada siapa aku harus mencari kehangatan?

Ditemani senter kecil di tanganku, aku mencoba terus menyusuri lorong gelap yang seperti tak berujung.

Namun aku melihat sebuah cahaya samar-samar. Hatiku gembira, karena artinya ada jalan keluar di ujung sana. Rasanya ingin langsung berlari namun aku menahan diri, tapi langkahku sedikit lebih cepat karena tidak sabar.

Ada suara langkah kaki..

Perasaanku bercampur aduk.. takut kalau misalnya itu ternyata orang jahat.. tenang.. aku harus tenang..

Ketika semakin dekat cahaya dan suara langkah pun semakin jelas, aku terus berjalan menatap ke depan..

Ternyata itu kamu!

Kamu yang selalu menepati janji, mencari kemana aku pergi.

Positif

Tanggal 9 Februari lalu, saya dan beberapa orang tim internal dinyatakan positif oleh salah satu lab. Melihat hasilnya, saya merasa tidak yakin dan tidak puas karena badan saya rasanya sehat, tidak demam, tidak juga pegal/linu, pokoknya semua gejala tidak saya rasakan. Hal ini membuat saya langsung mengajak tim saya untuk mencari opsi lain; test di 1 lab lain pada malam itu juga dan 2 rumah sakit swasta di Jakarta esoknya.

Hasilnya, saya dinyatakan negatif dari 3 alternatif itu. Tapi di malam saat saya dinyatakan positif, saya sudah masuk ke dalam daftar positif Kemenkes sehingga status di aplikasi Peduli Lindungi pun otomatis berubah menjadi hitam.

Pada akhirnya, joke saya yang terinspirasi dari konten di Tiktok ketika belum pernah terpapar covid, “saya pengen terus jadi favorit Tuhan” ternyata salah selama ini. Bukan hanya menjadi favorit, tapi saya ternyata sangat disayang Tuhan.

Status positif Covid ini membuat saya jadi mengerti sekali bagaimana rasanya mental dihantam sehingga membuat down sekali. Bukan hanya terjadi di saya saja, tapi juga di tim saya. Kami sama-sama saling menguatkan dan yakin bahwa this too shall pass.

Malam itu juga, saya memutuskan tetap melakukan isolasi mandiri di rumah dan akan melakukan test ulang sesuai dengan prosedur. Begitu juga dengan aktivitas kantor, semua dilakukan secara WFH. Minimal saya tidak ikut menyebarkan virus ini kalau memang saya positif.

Dan hari ini saya melakukan test PCR kembali dan hasilnya negative. Status saya di Peduli Lindungi pun sudah kembali hijau. Yay!. Tapi saya memutuskan masih meminimalisir melakukan kegiatan diluar rumah karena masih ada ketakutan terpapar kembali.

Saya mendoakan semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Amin.

Jalan Pintas Menuju Mimpi (Fana)

Berlari dan terus berlari tanpa tahu batas lelah bahkan lelahnya batin tidak lagi kamu rasakan hingga membuat kamu (mungkin) lupa bagaimana itu rasanya berhenti sejenak hanya untuk sekedar bernapas, rehat, dan sekedar menikmati (apapun) keadaan hidupmu dan dirimu sendiri. Berlari dan terus berlari mengejar cahaya yang kamu selalu pikir itu adalah tujuan utamamu, namun ternyata kamu lupa kalau kita sering silau karena cahaya sehingga tidak dapat melihat dengan jelas di depan sana atau bahkan melihat diri sendiri.

Berlari dan terus berlari sampai kamu tidak sadar, fisikmu lelah, kaki itu butuh istirahat, otakmu juga butuh asupan oksigen masuk, dan hati kamu juga butuh disentuh dengan kasih karena ia sudah mulai lupa bagaimana rasanya dicintai lagi. Bukan oleh orang lain, namun oleh kamu, dirimu sendiri. Hatimu hanya butuh kamu, butuh kamu isi kembali dengan canda tawamu dan cintamu sampai akhirnya kembali sadar siapa identitasmu.

Ego mengalahkan kasih, ego akan selalu menang di dalam hidupmu. Tanpa sadar, ego bahkan  sudah merubah makna cinta bukan lagi kasih tanpa kamu sadari. Menjalani hidup di dunia fantasi hasil ciptaan ego dirimu membuat kamu yakin bahwa ini jalan terbaik yang seharusnya kamu dan belahan hatimu jalani. Namun, apa iya ini akan jadi contoh yang patut ditiru untuk masa depan?

Bagaimana sebuah kehidupan ideal dengan landasan ego dapat tercipta ketika hati dan dirimu saja sebetulnya sudah lelah menjalaninya?

Bagaimana bisa menciptakan kebahagiaan kemudian menularkannya untuk menjadi contoh bekal nantinya ketika dijalankan dengan memakai topeng? 

Apakah ini definisi mencintai diri sendiri menurutmu saat ini? Apa kamu tidak capek menjalani hidup seperti ini? Apa kamu sanggup terus berpura-pura menjadi orang lain sedangkan kamu ingin menjadi contoh dan impact buat belahan hatimu?

Siapa identitas dirimu saat ini?

Berlari dan terus berlari, sampai kamu bahkan tidak berani menghadapi kenyataan, tidak berani menghadapi kegagalan akibat kesalahan dirimu sendiri, sampai kamu akhirnya akan mengerti semua yang aku pernah katakan “terlambat itu ada”. Terlambat itu nyata.

Berlari dan terus berlari, dari ketakutan dan trauma masa lalu yang kamu pikir sudah kamu hadapi dan berdamai, lalu luka itu sembuh. Luka itu sesungguhnya masih ada dan bertambah besar, sangat jelas terlihat dari dirimu. Luka itu terlalu menyakitkan untuk dirimu obati, sehingga kamu pilih diamkan, dan sekarang sedang kamu tularkan ke belahan hatimu tanpa kamu sadari bisa membusuk sampai kamu tua nanti apabila tidak kamu sembuhkan.

Berlari dan terus berlari, tanpa henti untuk (kamu pikir) terus mengejar mimpimu.

Kamu hanya sedang berlari tanpa tujuan dan berputar disitu-situ saja, hanya tempat dan waktu yang berbeda, namun hasil akhirnya tidak membuatmu stabil, terlihat eksponensial seperti yang selalu kamu katakan ke dirimu dan orang-orang yang selalu kamu beri motivasi, kemudian semua hasil akhir akan hilang begitu saja karena ulah diri sendiri.

Sampai akhirnya kamu sadar, melihat tanggal, hari, umurmu bertambah terus setiap tahun, namun terlalu banyak waktu terbuang sia-sia untuk kebahagiaan semu yang kamu jalani.

Berhentilah sejenak, rasakan setiap lelahmu, hadapi ketakutanmu, dan jujurlah pada hatimu. Karena hati kamu yang baik terlalu sayang untuk disia-sia-kan demi ego kamu yang bahkan tidak tahu makna menyayangi dengan tulus tanpa batas.

Semoga doa baik dari orang-orang yang pernah ada di dunia ini dan tulus menyayangi kamu bisa membuatmu akhirnya mau sedikit meredam ego agar membuka hatimu untuk lebih jujur yang akhirnya membuatmu mau untuk menerima kasih dari ketulusan dan tetap menjadi dirimu sendiri dengan identitas kamu.

Xoxo

Kamu

Tanggal 20 September 2020 pukul 6.30, pagi itu menjadi perjalanan bisnis ke dua kalinya bagi saya ke pulau di seberang pulau Jawa. Salah satu tugas di pekerjaan saya adalah mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungin. Hal yang tidak pernah saya bayangkan 9 tahun lalu.

Di dalam pesawat menuju pulau Kalimantan, entah di ketinggian berapa kaki diatas laut membuat saya teringat perbincangan hangat penuh kasih 2 tahun lalu antara saya dengan kamu.

Kamu, yang paling bisa membuat saya merasa tertantang tanpa perlu menantang.

“Tahun depan, kamu harus bisa punya uang hasil keuntungan diangka milyar ya!”, ucapnya sambil tersenyum lebar ketika saya menceritakan hasil perkenalan saya pertama kali di meeting hari ini.

“Aku nulis billing nilainya puluhan juta aja deg-deg-an banget, ratusan juta ga pede, apalagi milyaran? Ngebayangin nulis buat diri aku sendiri ga berani…”, ucapku polos dengan nada pelan.

“Pasti bisa kalau kamu mah”, sambutnya, kemudian dengan nada meledek ia melanjutkan kembali ucapannya, “dulu aja aku pernah bilang kan depan anak-anak, tim yang terakhir tersisa ini gue yakin orang-orang terbaik karena punya trust dan sense of belonging yang tinggi. Dan diantara tim terbaik ini gue yakin Lia yang akan paling jadi! Gila, from nothing men… hahahaha”, ia tertawa keras sekali. Saya tau kamu tidak sedang meledek saya, ada rasa bangga terpancar di mata kamu yang selalu bisa membuat saya lebih percaya diri kembali beberapa tahun ini ketika habis berkeluh kesah mengenai pekerjaan dengan kamu.

Tidak berapa lama setelahnya keadaan saya dan kamu berubah menjadi 2 kutub yang tidak lagi saling melekat. Masing-masing menjalani prosesnya sendiri, tanpa ada lagi support sistem mutualisme satu sama lain. Di bulan ke 4 tanpanya, saya berhasil menulis surat penawaran dengan angka penagihan milyaran! Tanpa disadari perkataan kamu terpatri di pikiran, hati, dan alam bawah sadar saya sehingga ikutan menarik alam semesta ini untuk bekerja sama memunculkan rasa keberanian didalam diri saya untuk akhirnya bisa merealisasikan tantangan kamu. Terima kasih sudah mau percaya ke diri saya yang saya sendiri saja (pada saat itu) masih belum percaya kalau diri saya mempunyai kemampuannya.

Kamu, yang selalu memuji ketika saya memilih merugi.

Integritas dan value adalah modal utama saya sejak dari awal bekerja sampai akhirnya masuk ke dunia bisnis saat ini. Bagi saya yang hanya bermodalkan tekad, keyakinan, dan motivasi yang benar sangat percaya bahwa integritas dan value amat lah penting untuk menjadi bagian dari identitas diri ketika menjalani kehidupan sehari-hari guna mendapatkan akselarasi diri dalam hidup. Secara teori terlihat mudah namun tidak ketika praktek di dunia nyata. Keserakahan menjadi asal muasal manusia digelapkan hatinya untuk kemudian melakukan berbagai cara mendapatkan harta sebanyak-banyaknya dengan minimal bekerja.

Namun lagi lagi kamu memberikan saya keyakinan bahwa value dan integritas diri saya yang nantinya akan membawa semua hasilnya secara nyata. Dan pelan-pelan namun pasti saya dapat melihat dan merasakan semua yang kamu ajarkan sejak dari hampir 9 tahun lalu.

Kamu, yang selalu percaya bahkan ketika saya tak berdaya.

Di tahun 2012 ketika bekerja pada suatu perusahaan yang bahkan saya sendiri tidak tahu apakah industri ini cocok atau tidak dengan saya (?) namun kamu selalu meyakinkan bahwa segala hal bisa dipelajari.

Kamu selalu bilang, “bisa engga bisa cuman soal waktu!”.

Beberapa tahun kemudian, saya menambahkan, “Bukan hanya waktu, tapi juga harus ada kemauan. Karena aku mau maju makanya aku mau belajar”. Dan kamu mengamini sembari tersenyum.

Kamu, yang memilih egois sehingga tidak realistis.

Rasa tidak pernah cukup dan ketidakbahagiaan membuatmu butuh sekali validasi tanpa pernah mau memikirkan perasaan orang lain. Ego yang besar membuatmu menjadi egois tanpa pernah berpikir bahwa ada orang orang yang peduli namun tidak kamu diindahkan.

Apa yang sebetulnya kamu cari? Pengakuan dari dia yang pernah mengecilkan dan menolak kamu? Tahukah kamu kalau dia tidak tulus kepadamu?

Ah sudahlah, ketika rasa amarahmu lebih penting daripada masa depanmu. Sungguh sangat sayang sekali waktu menjadi sia-sia terbuang serta kemunduran mentalitas hanya karena ego dan emosi.

Kamu yang tersayang, namun memilih pergi untuk dikenang.

Aku terima dan sadar bahwa takdir aku dan kamu mungkin hanya sampai kemarin. Terima kasih untuk semua pembelajaran yang sudah pernah kamu ajarkan, terima kasih kamu pernah hadir dalam hidupku. Aku berdoa dimanapun kamu berada, kamu akan selalu bahagia dan dalam lindungan Tuhan.

Cheers,
RA